Sunday, October 18, 2020

Cegah Penyebaran COVID-19 , Mahasiswa KKN UIN Walisongo Himbau Masyarakat Lewat Banner

Pemasangan Baneer oleh Tim KKN UIN Walisongo 15/10. (SM/Doc)

SEMARANG, Walisongo Publishing- Himbau masyarakat untuk ikut serta mencegah penyebaran Covid-19, Mahasiswa KKN R-DR (Kuliah Kerja Nyata Reguler Dari Rumah) UIN Walisongo Semarang pasang banner di beberapa titik Perumahan Beringin Asri, Wonosari, Ngaliyan, Semarang, Kamis (14/10/2020).

Berbekal ijin dan dukungan dari pemerintah desa setempat, Mahasiswa KKN R-DR UIN Walisongo memasang sejumlah 8 Banner di area perumahan. Banner-banner tersebut berisi himbauan dan cara pencegahan penularan covid-19.

Seperti dijelaskan Shodiq (21), selaku koordinator pemasangan banner,

"Semuanya berjumlah 8 banner dengan ukuran yang berbeda-beda, isinya tentang himbauan kepada masyarakat untuk memakai masker, mencuci tangan, memakai handsanitizer, jaga jarak dan lain sebagainya".

Terkait pemasangan banner, mereka memilih tempat-tempat strategis agar tidak menganggu pemandangan dan bisa dilihat dengan jelas oleh masyarakat.

"Semua itu kami pasang di titik-titik strategis, diantaranya gapura RT, balai RT, Pos  Kamling, dan salah satunya kami juga pasang di pintu masuk masjid", jelas Shodiq.

Ia juga mengatakan bahwa pemasangan banner menjadi pilihan yang tepat untuk mengedukasi masyarakat. Selain bahasanya yang singkat, kesadaran untuk cegah covid-19 cenderung akan muncul ketika masyarakat terus melihatnya.

Kegiatan yang dilakukan sebagai salah satu bentuk pengabdian nyata  mahasiswa kepada masyarakat ini, disambut baik dan diapresiasi oleh warga Perumahan Beringin Asri.

Rizky (21), salah satu warga Perumahan Beringin Asri mengatakan,

"Seneng kalau ada banner seperti ini, kita jadi merasa terus diingatkan dan akhirnya sadar untuk ikut mencegah penyebaran covid-19".

Saefudin, Ketua RT.04 Perumahan Beringin Asri juga turut memberi semangat dan dukungan berupa perizinan untuk kegiatan ini. 

"Kegiatan apapun, selama itu untuk kebaikan saya akan terus mendukungnya. Apalagi untuk mengedukasi masyarakat Beringin Asri ini" tuturnya.

Ia juga berharap kedepannya kesadaran masyarakat untuk memutus rantai penyebaran covid-19 bisa meningkat dengan pemasangan banner tersebut. 

Reporter: Sodikotul Muharisah

Hidupkan Kembali TPQ NU 02 Tembok Kidul Di Masa New Normal


 Proses belajar di masa New Normal TPQ NU 02

TEGAL, Walisongo Publishnig- Pandemi menjadi problema dalam segala lini kehidupan, segala kegiatan menjadi terhambat karena adanya himbauan dari pemerintah untuk tetap di rumah saja, termasuk sekolah. Namun, sejak awal Juni kemarin pemerintah telah menerapkan New Normal di Indonesia. Hal ini tentu saja dimanfaatkan oleh masyarakat untuk kembali beraktifitas namun tetap mengikuti protokol kesehatan.

Pendidikan merupakan hal yang sangat penting untuk bekal di masa depan, seperti contohnya Pendidikan Al Qur’an. Kesempatan ini digunakan sangat baik oleh para ustaz dan ustazah TPQ (Taman Pendidikan Qur’an) di TPQ NU 02 Tembok Kidul yang memutuskan untuk kembali menerapkan pembelajaran seperti dulu. Lokasi TPQ ini berada di Desa Tembok Kidul, Adiwerna, Tegal. 
 
Dalam penghidupan kembali TPQ ini para ustaz dan ustazah menerapkan protokol kesehatan yang wajib diikuti oleh murid-murid yang hendak belajar, seperti penggunaan masker, menjaga jarak satu sama lain, serta mencuci tangan sebelum memasuki area TPQ.

Para ustaz dan ustazah pun selalu memberikan pemahaman kepada murid tentang keadaan yang sedang terjadi saat ini dan memberi contoh hal-hal yang harus di waspadai mengingat bahayanya Covid 19 ini, dengan begitu murid-murid pun senantiasa paham dan sadar akan pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan.

“Tidak ada hukuman atau sanksi, jika ada murid yang tidak mengikuti protokol kesehatan, akan tetapi tetap ditegur supaya jangan mengulangi lagi serta memerintahkan supaya mematuhi protokol kesehatan,” ucap Dika (22), salah satu ustazah yang ditemui pada Kamis (15/10).

Menurut Aminah (45), kepala sekolah TPQ ini juga mengatakan bahwa murid tidak hanya diberi arahan untuk mematuhi protokol kesehatan, akan tetapi murid juga diberi bantuan berupa masker dan face shield untuk digunakan saat belajar di kelas.

“Ada bantuan dana dari pemerintah untuk beberapa sekolah, terutama TPQ NU 02 Tembok Kidul ini, dana ini digunakan untuk membeli alat-alat kesehatan seperti thermometer, disinfektan, masker, face shield, serta wastafel untuk cuci tangan yang diletakkan di depan sekolah agar anak-anak mau mengikuti aturan protokol kesehatan,” pungkasnya.


Reporter: Syahda Afni Arvia (1701026101)

Tantangan dan Solusi Pengajaran PAUD di Masa Pandemi

 

Anak-anak sedang melakukan kegiatan belajar dengan membuat sebuah kreativitas yang terbuat dari Kertas Origami pada hari Rabu (16/10/2020)


SEMARANG, Walisongo Publishing- Wabah COVID-19 membuat banyak kegiatan publik beralih dengan pusat aktivitas utamanya berada di rumah. Situasi ini merupakan realitas baru yang juga dialami dunia pendidikan utamanya terjadi pada pengajaran pendidikan anak usia dini (PAUD) Tarbiyatul Adhfal 57, yang berada di Jln.Cempaka1, Rt 01 Rw 03, kelurahan Penggaron lor ,Genuk Semarang.

Mau tidak mau, suka atau tidak, semua pihak mulai guru, orangtua, dan murid harus siap menjalani kehidupan baru (new normal) lewat pendekatan belajar menggunakan teknologi informasi dan media elektronik agar proses pengajaran dapat berlangsung dengan baik. Pada konteks yang lain, semua pihak diharapkan tetap bisa optimal menjalankan peran barunya dalam proses belajar-mengajar di masa pandemi ini.

Dengan adanya pandemi ini dari pihak sekolah mengadakan rapat yang di pimpin langsung oleh kepala sekolah bernama ibu Hj.Masrifatun dengan narasumber yang terdiri dari orang tua murid dan juga seluruh pengasuh PAUD di ruang rapat pada sabtu (10/10).

Dalam rapat tersebut membahas mengenai sistem pengajaran yang diberikan oleh guru terhadap muridnya di masa pandemi seperti ini. Dari pihak sekolah sepakat untuk melakukan pembelajaran secara tatap muka namun hanya berlangsung beberapa hari saja dalam seminggu sehingga sisanya bisa melalui pembelajaran secara daring.

Hal ini di karenakan masih ada sedikit orang tua yang merasa keberatan dengan adanya tugas daring .Menimbang masih terdapat kesenjangan akses terhadap internet, kapasitas menggunakan aplikasi pembelajaran, serta kemampuan finansial di setiap wilayah.

“Tantangan ataupun hambatan dalam pembelajaran daring itu biasanya terdapat pada susahnya jaringan yang kita miliki kemudian paket data”Ucap Ivatul Amalia" pengasuh PAUD.

Menurutnya, “Kita bisa menekan tombol PAUSE untuk beberapa kegiatan, tapi kita tidak bisa melakukannya kepada pertumbuhan anak-anak kita.”

“Inilah masa kita membahagiakan semua dengan lebih memahami apa yang menjadi kebutuhan dasar anak sambil memenuhi tujuan utama PAUD, yakni soal iman dan takwa lewat penanaman karakter yang sederhana seperi sopan, santun, gairah beribadah, dan membantu orang tua. Jangan sampai semua jadi stress, karena orang tua harus memenuhi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH) dari Guru, sementara Guru ditagih oleh Dikbud sebagai bagian pertanggungjawaban kinerja,” ujar ibu Hj.Masrifatun"Kepala Sekolah.

Disisi lain pihak sekolah juga sudah  menjelaskan upaya-upaya yang dilakukan oleh Kemendikbud untuk menyikapi situasi belajar selama pandemi Covid19 ini melalui, di antaranya, bagi mereka yang punya akses teknologi, bisa memanfaatkan beragam aplikasi belajar, Bagi yang tidak punya akses bisa melalui TVRI, sambil terus dievaluasi proses pelaksanaannya.


“Bagaimana bila internet dan TVRI tidak bisa diakses? Ada prinsip yang perlu dipegang, pertama soal kebahagiaan anak dalam belajar. Kedua, keselamatan peserta didik, orang tua, dan guru. Artinya kunjungan ke rumah bisa dilakukan asal daerah yang bersangkutan tidak dalam protokol darurat pandemi (red zone)," ucap Ivatul Amalia"

Kemudian yang terakhir dari pihak pemerintahan juga sudah memberikan sedikit bantuan berupa paket data yang bisa digunakan untuk di dalam dunia pendidikan khususnya dalam pembelajaran,namun tidak semua bisa menggunakan bantuan dari pemerintahan tersebut karena dari pemerintahan sendiri ada cara bagaimana agar nomor kita bisa terdaftar kedalam bantuan paket data tersebut.


Reporter: Lilik Ambarwati (1701026066)

Akan Mulai Pembelajaran, Santri Al Asy’ariyyah Dikawal Ketat, Ada Prosedur Berlapis Sebelum Masuk Pondok


WONOSOBO, Walisongo Publishing - Diperkirakan sedikitnya 1.000 Santri maupun mahasiswa yang datang ke kawasan Kalibeber, Mojotengah, ke Ponpes Al Asy’ariyah  dikawal beberapa pihak di lapangan Kalibeber, kemarin (15/10). Ketika sudah lolos di tahapan pemeriksaan awal, maka para santri akan di karantina di lingkungan pondok masing-masing.

“Yang anak-anak sekolah di kamar masing-masing dan tidak boleh keluar pondok, disediakan makan. Sedangkan untuk mahasiswa menempati kamar anak kelas tiga yang sudah pindah. Total santri yang akan pulang hari ini diperkirakan 500 santri, dan sudah sejak bulan lalu kebanyakan siswa kelas 3 dan mahasiswa,” kata salah satu pengurus pondok, Fadilatunnikmah, ketika mengawal proses kedatangan hingga Minggu malam (15/10).

Untuk tempat karantina, difokuskan di lokal pondok, meskipun sebelumnya ada rencana di SMK dan SMA Takhassus. Untuk satu bilik akan dihuni hingga 20 orang santri mengingat kuota pada kondisi umum yakni satu kamar untuk 50 santri. Para santri yang datang juga mengikuti protokol kedatangan seperti, cuci tangan, disemprot antiseptik, cek kesehatan, dan mengikuti masa karantina setelah tiba di pondok.

“Aturan di pondok cukup ketat, intinya santri tidak diperbolehkan keluar pondok selama masa karantina. Jika ada yang muncul gejala mengarah ke covid, akan dilaporkan ke puskesmas dahulu,” imbuhnya.

Ditanggapi Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonosobo, Zulfa Akhsan Alim, kedatangan santri pada Minggu petang (15/10), adalah puncak kepulangan santri. Bahkan beberapa hari sebelumnya sudah dipersiapkan tenda cek poin dan diperkirakan total santri yang datang mencapai 1.000 orang.

“Sesuai permintaan dari Pondok Pesantren, hari ini menjadi batas akhir dan sudah masuk 400 santri lebih dalam sehari ini dan disiagakan sampai malam hari. Alurnya, ketika kendaraan santri masuk sudah ada tim pencegat dan kendaraan di spray dengan cairan antiseptik, lalu penumpang masuk ke lapangan dan masuk ke kamar antiseptik. Untuk mobil dan orang dibedakan karena dikhususkan untuk tubuh manusia,” kata Zulfa saat pantauan kedatangan.

Para santri kemudian mengisi absensi dan cek kesehatan. Ketika cek pertama normal, bisa lanjutkan perjalanan dan disemprot barang-barangnya. Ketika ada tanda-tanda yang mengarah dibawa k epos ke-dua. Namun jika suhu bisa turun ketika ditunggu dan tidak ada gejala, maka bisa lanjut ke lokasi karantina di pondok.

“Sejauh ini belum ada tanda-tanda gejala covid 19, dan mudah-mudahan semua sehat. Di pondok sudah ada pembershian dan aturan khusus sesuai prosedur bagi yang baru masuk diharuskan mengkarantina diri hingga dipastikan kesehatanya. Ketika masuk pondok pun mereka masih terus dijaga dan diminta dipantau kesehatannya,” imbuhnya.

Santri di Kalibeber memang mayoritas berasal dari luar daerah bahkan ada yang dari luar pulau termasuk Kalimantan. Meskipun belum ada rencana rapid tes namun dikatakan Zulfa  bisa saja diagendakan oleh dinas kesehatan dalam rencana 40.000 tes yang direncanakan akan dilakukan.

Menurut salah satu santri, Rofik yang merupakan warga lokal Watumalang mengaku kondisi tersebut meski membuat para santri kurang leluasa namun harus dilakukan demi keamanan dan kesehatan bersama.

“Kami pulang karena ingin ikut agenda harian pondok yang sudah libur cukup lama,” pungkasnya.


Reporter :Khotimatus Sa’adah